Kamis, 29 Januari 2009

PEMBELAJARAN DEMOKRASI

PEMBELAJARAN DEMOKRASI


Menjelang pesta demokrasi yang tinggal beberapa bulan lagi, saya ingin membuat refleksi atas keadaan bangsa saat ini.
Pengertian demokrasi merujuk pada sebuah gagasan tentang mengelola kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat yang berorientasi rakyat. Oleh karena itu bangsa, masyarakat dan setiap individu perlu melakukan pembelajaran demokrasi sebelum menjadi pelaku demokrasi.

Demokrasi bukanlah sebuah tujuan, tetapi alat untuk mencapai tujuan. Demokrasi bukanlah alat yang bisa ditanggalkan ketika sebuah tujuan telah tercapai. Demokrasi adalah alat yang selalu harus direvitalisasi agar kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat menjadi lebih bermartabat. Demokrasi yang lebih baik hanya mungkin dicapai dengan cara yang lebih demokratis.

Ditandai dengan jatuhnya rezim Orde Baru, Indonesia telah melampaui 8 tahun lebih bertransisi menuju demokrasi. Sejarah tentang peralihan kekuasaan negara yang kembali ‘memanas’ dengan munculnya buku “Detik-detik yang Menegangkan” karya BJ Habibie, karena melibatkan orang-orang yang sebenarnya memiliki peluang untuk memegang kekuasaan tanpa proses demokrasi yang sehat. Habibie yang dianggap oleh beberapa kalangan sebagai salah satu tokoh peletak dasar demokrasi di Indonesia, ternyata juga menyisakan cerita yang tidak sempurna, karena memang demokrasi tidak bisa sempurna dalam satu kondisi kemudian sempurna di kondisi yang lain.

Sejak peralihan kekuasaan dari Soeharto ke Habibie itulah, bangsa Indonesia bertransisi menuju demokrasi. Pembelajaran demokrasi pun berlangsung, baik melalui perilaku para politisi dan pejabat public maupun munculnya prosedur-prosedur baru bernegara.

Para politisi dan pejabat public yang menjadi pelaku sekaligus sumber pembelajaran demokrasi lebih banyak menjadi tontonan ketimbang tuntunan bagi rakyat untuk memahami demokrasi. Rakyat seringkali dibuat bingung, dan mulai membandingkan bahwa demokrasi yang seharusnya mensejahterakan mereka, ternyata tidak lebih baik daripada masa kepemimpinan sebelumnya yang dikatakan tidak demokratis.

Selain menonton para politisi dan pejabat public, pembelajaran demokrasi juga ditandai dengan adanya prosedur-prosedur baru yang berjalan, seperti partai yang kompetitif, pemilu langsung, pemilihan kepala daerah langsung, parlemen dan eksekutif yang berbeda dan tak kalah pentingnya adalah media masa yang semakin bebas.

Partai politik semakin menjamur—dengan berbagai kepentingannya—menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses demokrasi. Pemilu 1999 yang diikuti 48 partai, kemudian Pemilu 2004 yang diikuti oleh 24 partai, Pemilu 2009 yang akan diikuti oleh 44 partai, mencerminkan bahwa banyak pihak sadar untuk berkelompok dan berorganisasi.
Akan tetapi demokrasi bukanlah diukur dari banyaknya partai, tapi apa yang dilakukan partai tersebut untuk rakyat yang memilih dan tidak memilihnya. Apa yang dilakukan orang-orang partai ketika berkuasa, apakah hanya memerintah ataukah melayani dengan segenap hati?
“Ingatlah hai orang-orang yang berkuasa. Godaan terbesarmu adalah kekuasaanmu.” (Marsigit)

Sisi gelap lain dari masa transisi menuju demokrasi adalah kebebasan yang seringkali tidak disertai dengan tanggung jawab. Contohnya adalah media massa yang semakin bebas dan beberapa diantaranya tanpa memikirkan tanggung jawab dalam mengedukasi masyarakat (terlebih dahulu) untuk bisa memilih dan memilah mana yang cocok baik berdasar usia maupun budaya, menyebabkan media bukan lagi mencerminkan demokrasi atau kebebasan, tapi malah kebablasan.

Apa pun yang terjadi dalam 8 tahun perjalanan transisi demokrasi ini, ada pembelajaran yang berbeda yang bisa didapatkan, yaitu pertama, Perilaku politisi yang santun dan pejabat publik yang kompeten bisa meningkatkan pemahaman, kepercayaan, dukungan rakyat tentang demokrasi. Akan tetapi di sisi lain, bisa terjadi sebaliknya; apa yang terjadi selama transisi demokrasi—perilaku politisi yang tidak santun, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan politisnya serta pejabat publik yang tidak kompeten—menyebabkan menurunnya pengertian, dukungan dan kepercayaan tentang demokrasi.

Banyak contoh yang bisa dikemukakan untuk memberikan gambaran betapa proses transisi menuju demokrasi bisa memberikan dampak yang tidak selalu positif.

Pembelajaran demokrasi melalui perilaku politisi dan pejabat publik serta prosedur-prosedur baru yang berjalan tidaklah cukup. Demokrasi seharusnya menjadi bagian dari perilaku dan sikap warga negara dan pemerintah. Oleh karena itulah pembelajaran demokrasi perlu dilakukan dengan cara terstruktur.

Cara pertama untuk melakukan pembelajaran demokrasi secara terstruktur adalah dengan menyisipkan/menyusupkannya ke dalam kurikulum pendidikan (sekolah, akademi, perguruan tinggi, dll), bukankah pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Bagaimana mungkin menghasilkan warga negara yang demokratis tanpa pembelajaran demokrasi yang terstruktur?

Cara kedua pembelajaran demokrasi yang terstruktur adalah melalui program khusus yaitu menempatkannya dalam proses pembelajaran yang terarah, terencana dan terstruktur. Demokrasi dipelajari dalam wujudnya sebagai institusi.
Pembelajaran demokrasi di Indonesia penting untuk dilakukan secara terstruktur, sehingga para pelaku demokrasi bukanlah tokoh politik instan dan pejabat publik yang tidak kompeten, melainkan pelaku demokrasi yang memahami apa yang terbaik bagi bangsa, negara dan masyarakatnya.

Keuntungan dari pelaku demokrasi yang melakukan pembelajaran demokrasi secara terstruktur berpeluang menghasilkan kebijakan publik yang berorientasi kepada kepentingan rakyat, bukan hanya untuk mempertahankan kekuasaan.

Jika kesejahteraan rakyat menjadi tujuan dan demokrasi adalah alat untuk mencapainya, maka pembelajaran demokrasi secara terstruktur penting dilakukan untuk membangun individu yang berpandangan bahwa menjadi pemimpin yang baik sama nilainya dengan menjadi warga negara yang baik.

Secara mikro, guru sangat berperan dalam internalisasi nilai-nilai demokrasi. Dengan paradigma pendidikan kekinian, pembelajaran demokrasi dapat dimulai sejak dini. Pembelajaran berorientasi dan berbasis siswa adalah jawabannya. Melalui pengetahuan "subserve", konstruksi pengetahuan dalam berbagai kerja kelompoklah nilai-nilai demokrasi diinternalisasi.

Aktivitas, Kreativitas dan Motivasi Siswa

Pengembangan Aktivitas, Kreativitas dan Motivasi Siswa
(Diterbitkan April 4, 2008 jurnal psikologi pendidikan)
Tags: artikel, berita, bimbingan dan konseling, makalah, opini, pendidikan, psikologi pendidikan, umum

Efektivitas pembelajaran banyak bergantung kepada kesiapan dan cara belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri, baik yang dilakukan secara mandiri maupun kelompok. Dalam hal ini, E. Mulyasa ( 2003) menekankan pentingnya upaya pengembangan aktivitas, kreativitas, dan motivasi siswa di dalam proses pembelajaran.

Dengan mengutip pemikiran Gibbs, E. Mulyasa (2003) mengemukakan hal-hal yang perlu dilakukan agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajarnya, adalah:

Dikembangkannya rasa percaya diri para siswa dan mengurangi rasa takut;
Memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas terarah;
Melibatkan siswa dalam menentukan tujuan belajar dan evaluasinya;
Memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter;
Melibatkan mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.

Sementara itu, Widada (1994) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa, guru dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut :
Self esteem approach; guru memperhatikan pengembangan self esteem (kesadaran akan harga diri) siswa.
Creative approach; guru mengembangkan problem solving, brain storming, inquiry, dan role playing.
Value clarification and moral development approach; guru mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan holistik dan humanistik untuk mengembangkan segenap potensi siswa menuju tercapainya self actualization, dalam situasi ini pengembangan intelektual siswa akan mengiringi pengembangan seluruh aspek kepribadian siswa, termasuk dalam hal etik dan moral.
Multiple talent approach; guru mengupayakan pengembangan seluruh potensi siswa untuk membangun self concept yang menunjang kesehatan mental.
Inquiry approach; guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan proses mental dalam menemukan konsep atau prinsip ilmiah serta meningkatkan potensi intelektualnya.
Pictorial riddle approach; guru mengembangkan metode untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil guna membantu meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif.
Synetics approach; guru lebih memusatkan perhatian pada kompetensi siswa untuk mengembangkan berbagai bentuk metaphor untuk membuka inteligensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan kegiatan yang tidak rasional, kemudian berkembang menuju penemuan dan pemecahan masalah secara rasional.

Sedangkan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, menurut E. Mulyasa (2003) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Bahwa siswa akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik dan berguna bagi dirinya;
Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada siswa sehingga mereka mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai. Siswa juga dilibatkan dalam penyusunan tersebut;
Siswa harus selalu diberitahu tentang hasil belajarnya;
Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan;
Manfaatkan sikap-sikap, cita-cita dan rasa ingin tahu siswa;
Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual siswa, seperti : perbedaan kemampuan, latar belakang dan sikap terhadap sekolah atau subyek tertentu;
Usahakan untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, rasa aman, menunjukkan bahwa guru peduli terhadap mereka, mengatur pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh kepuasan dan penghargaan, serta mengarahkan pengalaman belajar kearah keberhasilan, sehingga mencapai prestasi dan mempunyai kepercayaan diri.

TUJUAN DAN FUNGSI HIDUP

TUJUAN DAN FUNGSI HIDUP

Dari aspek sosiologi, hidup berkait erat dengan segala perbuatan manusia yang wujud dalam seluruh interaksi yang dilakukannya. Hidup berarti menyangkut seluruh aktivitas manusia dalam berbagai macam interaksinya satu sama lain. Tiada interaksi atau mengasingkan diri adalah ‘mati’.
Hidup dalam arti biologi, adalah syarat bagi adanya hidup dalam arti sosiologi. Tak akan ada hidup dalam pengertian sosiologi, kecuali dengan adanya hidup dalam pengertian biologi. Meskipun mungkin ada terdapat hidup dalam makna biologi, tetapi tak terdapat hidup secara sosiologi.
Memahami hakikat hidup adalah sangat fundamental. Kegagalan memahami hakikat hidup, akan membuat seseorang menjalani hidup bagaikan layang-layang terputus talinya atau bagaikan kapal berlayar tanpa nakhoda.
Hidup tanpa tujuan sama seperti naik taxi tanpa tujuan. Apa yang terjadi bila kita naik taxi tapi tidak punya tujuan? Ada 3 hal yang mungkin terjadi :
1. Sopir taxi marah-marah dan tidak mau membawa kita. Artinya kita tidak pergi ke mana-mana,tetap di tempat.
2. Sopir taxi mau membawa kita, kemudian bila argo yang harus kita bayar telah banyak. Kita akan dibawa ke tempat kita semula menghentikan taxi. Artinya kita menghabiskan banyak uang dan waktu, tapi kita tidak pergi ke mana-mana
3. Sopir taxi mau membawa kita dan bila argo yang harus kita bayar telah banyak, kita akan diturunkan disembarang tempat. Mungkin di tempat yang tidak kita kenal, atau mungkin di tempat yg kita benci. Artinya kita menghabiskan waktu dan uang banyak tapi kita sampai di tempat yang tidak kita kenal atau tempat yang kita benci
Kesimpulanya :
Ada 3 hal yang bisa terjadi bila kita hidup tanpa tujuan :
1. Hidup kita stagnan. Kita tetap seperti sekarang.
2. Kita menghabiskan banyak uang, waktu, tenaga dan pikiran, tapi kita pun tidak ke mana-mana. Kita hidup tetap seperti sekarang,tidak berubah
3. Kita menghabiskan banyak uang, waktu, tenaga, pikiran dan hidup kita berubah, tapi perubahan yang tidak kita inginkan atau bahkan berubah menjadi lebih buruk. Apa tujuan hidup kita? Segera tentukan tujuan hidup kita sebelum kita menghabiskan banyak uang, waktu, tenaga dan pikiran dengan percuma.

Bagaimanakah hakikat hidup seorang muslim?
Seorang wajib memahami hakikat hidupnya di dunia: Dari mana ia berasal, untuk apa hidup dan bagaimana dia harus menjalani hidupnya, serta kemana setelah mati? Oleh karena ini akan menentukan corak atau gaya hidup seseorang.
Banyak pelajar muslim yang tidak memahami dan kehilangan makna hidup yang hakiki. Hanyut dengan gaya hidup sekuler, ada pula yang acuh tak acuh menjalani hidupnya. Allah SWT telah membekalkan potensi pada diri manusia, akal dan fitrah yang melekat sejak diciptakan oleh Allah. Allah telah memberikan panca-indera, sebagai unsur penting untuk proses berpikir.
‘Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur.’ (QS An Nahl : 78)
Menggunakan potensi kehidupan akan memahami hakikat hidup manusia. Kegagalan memahami hakikat hidup, karena kelalaian dan keengganan menggunakan kurnianNya, sehingga arah dan orientasi hidup menjadi tidak jelas atau menyimpang dari jalan yang semestinya. Akhirnya, hawa nafsu atau setanlah yang dijadikan “tuhan”, yakni menjadi sumber penentu sikap dan tujuan hidupnya. Akan dicap oleh Allah SWT bagaikan binatang ternak, bahkan lebih rendah lagi daripada itu.

”Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam banyak dari jin dan manusia. Mereka mempunyai akal, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tandakekuasaan Allah) , dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS Al A’raaf : 179)

Pertanyaan “Untuk apa manusia hidup? “Pertanyaan ini berkaitan dengan fakta bahwa manusia telah lahir dan wujud di dalam kehidupan dunia ini. Sehingga wajar bila dalam hatinya muncul pertanyaan mengenai untuk apa dia hidup dan bagaimana dia harus menjalani hidup.
Pertanyaaan “Kemana manusia pergi setelah mati nanti? “ adalah wajar, karena setiap manusia pasti akan berjumpa dengan kematian. Dalam hatinya pasti terbit pertanyaan apakah setelah kematian berarti segala sesuatunya juga akan berakhir, ataukah kematian itu merupakan suatu pintu untuk memasuki fase kehidupan yang baru selanjutnya. Pertanyaan ini berkaitan dengan hakikat apa yang ada setelah kehidupan dunia.

Pertanyaan lain adalah “Adakah hubungan antara apa yang ada sebelum kehidupan dunia dengan kehidupan dunia kini serta hubungan antara kehidupan dunia kini dengan apa yang ada sesudah kehidupan dunia. Jika ada, hubungan apakah itu?”
Menghadapi pertanyaan yang demikian, sikap manusia bervariasi. Ada yang lari atau tak acuh terhadap pertanyaan tersebut, sehingga akhirnya mereka menjalani hidup sambil lewat (tanpa makna, tanpa visi, tanpa misi, kosong).
Jawaban pertanyaan ‘Dari Mana Manusia Hidup?’
Terhadap pertanyaan ‘Dari manakah manusia, hidup, dan alam semesta berasal ?’, maka Islam memberikan jawaban bahwa ketiga hal tersebut diciptakan oleh Allah SWT. Jawaban ini diterangkan dalam banyak nash, di antaranya,
‘Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.’ (QS Al Baqarah : 21)
‘Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.’ (QS. Al Infithaar : 6-7)
‘Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati lalu Allah menghidupkan kalian; kemudian Allah mematikan kalian dan menghidupkan kembali kalian, kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan?’ (QS Al Baqarah : 28)
Ayat-ayat di atas menegaskan dengan jelas bahwa asal manusia adalah diciptakan oleh Allah, bukan ada dengan sendirinya, atau tercipta semata-mata karena proses-proses alam, atau tercipta melalui evolusi dari organism lain yang lebih sederhana. Allah lah yang telah menciptakan manusia dan membuatnya hidup di dunia sampai batas waktu tertentu untuk kemudian nanti dikembalikan lagi kepada-Nya.
Jawaban pertanyaan ‘Untuk Apa Manusia Hidup?’
Terhadap pertanyaan ‘Untuk apa manusia hidup?’ Islam menjawab, bahwa manusia hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Yaitu untuk mentaati Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam segala aspek kehidupan. Misi hidup manusia ini dijelaskan Allah:

‘Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (beribadah) kepada-Ku.’ (QS Adz Dzariyaat : 56)
‘Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya mereka beribadah (menyembah) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama’ (QS Al Bayyinah : 5)
Ibadah menurut bahasa adalah taat (patuh, tunduk). Menurut istilah pula, memiliki dua arti: arti umum dan arti khusus. Secara umum adalah mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangan-larangan Allah. Secara khusus adalah ketaatan kepada hukum syara’ yang mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya, seperti shalat, zakat, haji, do’a, dan sebagainya.

Melaksanakan ibadah dalam makna umum secara konkrit merupakan misi hidup manusia di dunia menurut Islam. Inilah hakikat hidup manusia di dunia. Realitas ibadah terwujud ketika seorang muslim mengikat dirinya dengan hukum-hukum syara’ dalam hubungan dengan Tuhan, manusia lainnya dan dirinya sendiri.
Ketika seorang pelajar melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, atau membaca Al Qur`an disebut melaksanakan ibadah khusus. Tatkala dia belajar secara profesional dengan etika yang tinggi didukung keikhlasan dan sikap amanah, belajar bersungguh-sungguh, menepati janji, mengkaji ajaran Islam, prihatin keadaan kaum muslimin dan saudaranya yang lain, terlibat dalam kegiatan keislaman, bersabar tatkala mendapat musibah kegagalan, menjaga kesehatan dan kebersihan dan sebagainya disebut menjalani ibadah umum.
Sebaliknya, tatkala seseorang melalaikan tugas sebagai pelajar, melakukan, berbohong, berzina, melanggar peraturan sekolah, suka menyakiti orang lain dan sebagainya, dikatakan ia melakukan maksiat kepada Allah. Artinya ia lupa terhadap hakikat keberadaannya di dunia.
Jawaban pertanyaan ‘Kemana Manusia Pergi Setelah Mati Nanti?’
Manusia yang menuruti perintah Allah akan diberikan imbalan yang baik di akhirat nanti.
Manusia yang melakukan kejahatan atau maksiat akan dibalas di dalam neraka.

Rabu, 28 Januari 2009

AYAM DAN MANUSIA

KEHIDUPAN AYAM DAN MANUSIA
(sebuah refleksi)

Seekor ayam berkokok pagi-pagi benar, kemudian keluar kandang dan mengepak-ngepakan sayapnya, yang jantan berkokok keras, menyambut sang surya yang tersenyum di ufuk timur. Mereka pergi pagi dan pulang menjelang malam dengan gelembung tembolok di leher yang sudah penuh dengan makanan, kemudian beristirahat sampai menjelang pagi dan kembali berkokok, mengepakkan sayap, menyiapkan cakar-cakar untuk mengorek makanan di tanah dan rerumputan.
Itulah kelebihan seekor ayam tanpa beban bekerja mencari makan.
Sama halnya manusia, walau kadang bangun lebih telat dari si Ayam? Alangkah baiknya bila kita bekerja seperti ayam artinya bekerja tanpa beban, bedanya Ayam mencari makan untuk hari itu saja sedangkan manusia tidak untuk hidup hari ini saja, melainkan untuk esok hari, tatkala tua, menyekolahkan anak, membesarkan anak, mengantarkan anak sampai bisa mandiri dan lain-lain. Intinya bahwa banyak kepentingan atau keperluan manusia hidup, baik bagi diri sendiri maupun anak keturunannya nanti.
Manusia diberi kelebihan luar biasa, di pundaknya sebagai kholifah dibumi diserahkan, diberikan tanggung jawab lebih. Untuk itu berikut ini tahapan-tahapan manusia hidup, antara lain:
1. Masa Anak-anak, adalah usia bermain-main
2. Remaja, adalah usia belajar untuk bisa hidup
3. Dewasa, adalah usia meraih posisi dalam hidup
4. Setengah Tua, adalah usia mengisi sepanjang hidup
5. Tua, adalah usia mengisi tujuan hidup, mempersiapkan hidup selanjutnya.
Jangan sia-siakan waktu, karena waktu terus meninggalkan kita. Andaikan waktu bisa diputar balik atau seperti film-film hollywood dan bollywood yang mengisahkan orang kembali ke masa lalu atau menuju masa depan puluhan tahun dari sekarang, rasanya secara fisik mustahil, namun pandangan dan pemikiran bisa menuju masa lalu dan masa depan.
Tetap semangat berlomba dengan waktu, penuhi motivasi hidup dengan amalkan ilmu, salah satunya dengan “Bekerja”.
Renungan di atas adalah memberi motivasi adik-adik yang baru lulus sekolah dan baru bekerja, mereka sangat labil, bahkan dengan seribu alasan tidak mau bekerja karena gaji kecil, karena bosan dan tidak menarik, karena…..berbagai macam alasan. Mereka tidak sadar bahwa waktu terus berlanjut…semakin hari semakin tua…
Banyak di antaranya kawula muda yang berprestasi luar biasa, yang bisa dijadikan suri tauladan untuk memacu adrenalin untuk bisa dijadikan contoh berprestasi.
Tetap semangat! Selagi matahari bersinar, masih ada hari esok, masih ada kesuksesan bisa diraih, kegagalan adalah "enjoy" yang tertunda, cepat bangkit! Berdoa dan berusaha dan ubah pikiran anda menuju SUKSES...

FITRAH SEORANG ANAK MANUSIA

FITRAH SEORANG ANAK MANUSIA

Melihat anak yang masih kecil, seperti melihat cermin. Apa yang diucapkannya adalah apa yang diterimanya. Ketika yang diterimanya adalah kebaikan maka yang dikeluarkannya pun kebaikan. Orang tua adalah sumber ‘pemasukan’ bagi anak. Anak seperti sponge yang memiliki daya serap luar biasa.
Adalah akal budi yang masih bersih dan terbebas dari segala beban kesadaran mulai dihadapkan pada pertanyaan tentang hakikat sekelilingnya.
Adalah fitrah, kondisi anak yang terkalibrasi. Ibarat titik bersih, maka fitrah anak selalu berada dalam kebaikan. Ketika fitrah terpelihara, maka sinyal kebaikan selalu menjadi bagian dari pertumbuhan anak. tugas orang tua adalah membuat kondisi yang memungkinkan sinyal itu makin kuat.
Semakin usia bertambah, maka gangguan pun makin banyak. “Casing” atau tubuh manusia makin menua, di samping itu, kondisi lingkungan pun makin membuat sinyal bisa melemah, jika tidak dipelihara. Anak akan bertambah usia. Tantangan orang tua adalah memeliharanya agar walaupun casing-nya berubah, sinyalnya tetap kuat supaya terus bisa bersentuhan dengan fitrah.
Dunia sekeliling menciptakan banyak virus yang membuat fitrah menjadi samar, sinyal makin melemah. Kekuatan hati lah yang membuat fitrah terjaga. Pendidikan adalah antivirus paling tepat agar hati seorang anak makin kuat, bisa melawan virus fitrah.
Guru terbesar seorang anak bukanlah orang-orang yang berada di luar rumah, melainkan mereka yang berada dalam satu atap. Di dalamnya ada ibu, dialah orang yang terakhir dilihat ketika tidur dan pertama dilihat ketika bangun